Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Wednesday, February 17, 2010

Legenda Kota Inca


Selama 400-an tahun kota benteng Inca itu tersembunyi di pegunungan Andes. Karena letaknya tidak pernah diketahui, kota yang megah itu dianggap satu legenda di kalangan Indian Andean.

Catatan sejarah mengenai kebudayaan Indian Andean (suku-suku Indian yang hidup di kawasan pegunungan Andes) Amerika Selatan, menyebutkan bahwa kota benteng itu dibangun saat orang-orang Spanyol menjajah daerah Inca (Peru sekarang) dan sekitarnya pada 1530-an. Namun selama berabad-abad tidak diketahui pasti keberadaannya.

Banyak ekspedisi yang dilakukan sejak tahun 1800 sampai 1900-an untuk mencari kota Inca yang hilang itu. Namun semua ekspedisi tak pernah berhasil menemukan kota benteng berjulukan Mancu Picchu itu.

Ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan sudah menjelajah hampir seluruh daerah Inca dan taklukkannya. Mulai dari ibukota Inca di Cuzco sampai pedalam lembah dan hutan yang menyelimuti area pegunungan Andes dan sekitarnya, namun semua sia-sia. Lalu orang menganggap Machu Picchu tak lebih sekadar omong kosong.


Sampai akhirnya seorang penjelajah Amerika, peneliti sejarah Amerika Selatan dari Yale University, Profesor Hiram Bingham merancang ekspedisi untuk menemukan kota Inca yang hilang itu. Ia sudah melakukan riset dan perjalanan ke beberapa daerah kebudayaan Inca dan menemukan semacam petunjuk-petunjuk mengenai keberadaan Manchu Picchu (kota benteng pertahanan terakhir Inca menentang penjajahan Spanyol).

Ekspedisi itu berlangsung pada Juni 1911. Bingham mengikutsertakan 2 sejawat dan beberapa suku Indian Andean sebagai pembantunya. Mereka melakukan perjalanan panjang di sekitar lembah Urubamba yang eksotis, melintasi jalur yang belum pernah dilewati ekpedisi lainnya. Lembah luas yang tertutup hutan dan dibelah Sungai Urubamba itu terletak di wilayah selatan Peru, tak jauh dari garis luar perbatasan Cuzco.

Ekpedisi berminggu-minggu itu sudah diambang kegagalan karena tak juga berhasil mendapat petunjuk jelas tentang letak kota yang hilang itu. Pada Juli 1911 dipagi yang berhujan, seluruh tim meminta Bingham untuk menutup ekspedisi itu.

Namun ditengah keputusasaan, titik terang muncul dari seorang pemilik “penginapan” kecil terpencil di lembah Urubamba. Ia menunjukkan satu lokasi puing-puing Inca lama yang berada di seberang sungai Urubamba, tak jauh dari puncak Machu Picchu dan Huayna Picchu. Kedua gunung itu sangat terjal dan bercadas dan tampak begitu sangar.

Bingham kemudian mengajak si pemilik penginapan untuk meninjau lokasi yang dimaksud. Berdua dengan perbekalan yang dipanggul llama (sejenis unta Andes), mereka menyeberangi Sungai Urubamba dan mencapai lokasi yang dimaksud. Di situ Hiram menemukan jejak sangat samar yang mengarah ke gunung setinggi 2.350 meter.

Saat beristirahat, Bingham bertemu dua orang Indian. Setelah beramah tamah dan minum bersama, kedua Indian memberitahunya bahwa tak jauh di depan ada satu tikungan menuju area kebun bertingkat kuno yang dikungkung tembok batu tersamar tetumbuhan perdu.
Setengah percaya, Bingham bergegas menelusuri rute yang ditunjuk kedua Indian itu. Ditelusurinya jalur tingkungan yang mendaki dan Hiram Bingham terperanjat bukan kepalang. Nun di atas sana ia melihat jajaran petak-petak batu, benteng dan bangunan yang terbuat dari marmer dalam area yang cukup luas. Terhampar didataran yang dijepit dua puncak gunung (saddle area). Ia senang luar biasa dan mendekati kompleks bangunan tua itu. Ternyata ia telah berhasil menemukan kota Inca yang hilang!

Penaklukan Kerajaan Inca
Francisco Pizarro, dikenal sebagai penakluk kerajaan Inca. Ia yang bertanggung jawab atas tragedi pembunuhan Raja Atahualpa, dan satu-satunya penyandera yang mendapat tebusan paling mahal dalam sejarah.

Pizarro sebelumnya bekerja pada penakluk asal Spanyol Alonso de Ojeda selama dalam ekspedisinya ke Colombia pada 1510. Lalu bersama Vasco Nunez de Balboa si penemu Samudra Pasifik pada 1513.

Dari pengalamannya ia mengetahui ada peradaban Inca di Amerika Selatan. Istimewanya suku Inca ini kabrnya sangat kaya dan menyimpan banyak harta. Bersama rekannya Diego de Almagro ia membentuk aliansi. Dan melakukan ekspedisi ke Amerika Selatan pada 1524. Ekspedisi pertama ini hanya menjelajah sejauh tempat yang kini bernama Equador. Namun pada ekspedisi kedua mereka mencapai lebih jauh dan menemukan bukti-bukti akan keberadaan kerajaan Inca.

Dengan bantuan Kaisar Charles V, dan jaminan bahwa ia akan mendapatkan mayoritas keuntungan di masa depan dari ekspedisinya itu, maka Pizarro berlayar ke Peru dan mendarat di Tumbes pada 1532. Dia memimpin pasukannya ke Pegunungan Andes menuju kota Inca bernama Cajamarca dan disana menemui penguasa Inca bernama Atahualpa.

Berhasil mendekati Atahualpa yang baru saja memenangkan perang perluasan wilayah dalam kerajaan Inca terbesar, Pizzaro langsung mendapatkan kepercayaan dari sang raja. Namun dengan liciknya Pizarro menangkap Atahualpa dan meminta tebusan untuk nyawa sang raja.

Atahualpa bersedia memenuhi tuntutannya berupa satu ruangan yang dipenuhi dengan emas permata dan satu ruangan lain berisi perak. Tebusan ini diterima Pizarro dengan gembira. Setelah seluruh harta itu diangkut ke Spanyol dan sebagaian dimilikinya, Pizarro dengan tipu muslihat kembali menuduh Atahualpa melakukan kejahatan. Dan ia membunuh sang raja.

Dalam keadan chaos dan perebutan kekuasaan di wilayah Inca yang luas, Pizarro dan pasukannya akhirnya berhasil menaklukkan seluruh Peru. Pada 1533 pertahanan Inca berakhir dengan jatuhnya ibukkota Cuzco ke tangan Spanyol.

Sisa-sisa orang Inca yang tak mau takluk pada Francisco Pizarro melarikan diri ke pedalaman dan mendaki pegunungan Andes. Mereka kemudian membentuk komunitas dan membangun benteng sekaligus kota megah di suatu tempat yang kemudian dikenal sebagai Machu Picchu.

Machu Picchu sendiri dibangun sekitar tahun 1460-an oleh Pachacuti Inca Yupanqui, seorang penguasa Inca. Digunakan sebagai bangunan pemujaan terhadap dewa-dewa Inca dan tempat pengasingan.

Setelah Pachacuti mangkat, penguasa baru mengambil alih wilayahnya. Dan bangunan Machu Picchu terlupakan dan akhirnya terbengkalai. Sampai akhirnya kembali digunakan para pelarian Inca sebagai benteng terakhir mereka.

Awal dan Akhir Kerajaan Inca
Orang-orang Inca adalah suku yang keras. Mereka menjadi penguasa wilayah Andes sebelum ditaklukkan penjelajah Spanyol.

Inca mengawali sejarah peradabannya di wilayah Cuzco sekitar abad ke-12. Di bawah kepemimpinan Manco Capac, suku Inca membangun kota negara kecil Cuzco (Quechua). Dari wilayah ini mereka melebarkan sayap, meluaskan wilayah ke area-area sekitarnya di daratan Andes.

Pada tahun 1438, Inca tumbuh semakin kuat dan memulai ekpansi militer dibawah komando Sapa Inca (Panglima Tinggi) Pachacuti. Dalam waktu singkat wilayah suku lain di sekitar Cuzco ditaklukkan dan disatukan dalam kekuasaan Inca.

Pachacuti kemudian mereorganisasi kerajaan Cuzco menjadi imperium Tahuantinsuyu dengan sistem feodal. Pemerintahan terpusat yang membagi seluruh wilayah kekuasaan Inca menjadi empat provinsi. Ditunjuk empat gubernur yakni Chinchasayu (wilayah barat laut), Antisuyu (wilayah timur laut), Contiyusu (wilayah barat daya) dan Collasuyu (wilayah tenggara).

Untuk kepentingan keluarga kerjaan, Pachacuti membangun Machu Picchum, sebagai “villa” keluarga kerjaan dan tempat pemujaan di lokasi terpencil dipegunungan.

Pachacuti mengatur imperium Inca dan mengirimkan mata-mata ke semua wilayah di luar kekuasaannya untuk mendapatkan data intelijen tentang politik, militer, dan informasi lainnya. Ia mengirimkan pesan kepada negara tetangga untuk bersatu di bawah imperium Inca agar seluruh Indian Andean (suku-suku Indian di Andes dan sekitarnya) menjadi lebih kuat dan kaya raya. Sebagian kerajaan tetangga setuju untuk bersatu dengannya dalam damai.

Imperium Inca semakin luas dan besar. Pachacuti dan anaknya Tupac Inca selaku Panglima Militer pada tahun 1463-an melakukan ekspansi ke utara. Saat Pachacuti wafat (1471), Tupac Inca melanjutkan eskpansi militer tersebut dan menaklukkan kerajaan Chimor, musuh besar Inca di pantai Peru. Serdadu Ekspedisi Tupac Inca terus merangsek ke utara dan menguasai wilayah Equador dan Kolombia (yang sekarang).

Ekspansi militer kemudian diteruskan anaknya Huayna Capac ke wilayah selatan. Ia berhasil menundukkan seluruh Peru, Bolivia, terus ke Chili dan sebagian Argentina. Sejak itu Inca menjadi benar-benar luas, besar, terorganisir dan kaya raya. Semua pendapatan dihitung dalam persentase lalu dengan sistem pajak dan bagi hasil dibagi kepada wilayah-wilayah sekutu.

Namun perselisihan antara provinsi mulai terjadi dan intrik-intrik perebutan kekuasaan pecah secara tertutup maupun terbuka. Sampai imperium Inca mulai merapuh secara politik dan militer, akhirnya seratusan tentara ekspedisi Spanyol mendarat.

Dengan tipu daya dan persenjataan modern memanfaatkan kekacauan dan menaklukkan seluruh Inca dengan mudah sejak 1530-an. Perang habis-habisan melawan Spanyol dipimpin raja Inca terakhir Tupac Amaru pada 1571. Benteng pertahanan Inca runtuh dan semua tentara Inca yang tersisa dibantai. Inilah akhir imperium Inca.

| sumber: int – evin bakkara
Read More,...

Tuesday, December 29, 2009

Art Warak Ngendok goodwill to Malaysia

For four days, 3-6 December, University of Dian Nuswantoro (Udinus) held the State art goodwill Melaka, Malaysia. In bandaraya historic (heritage) was Udinus ngendok warak bring art to be displayed in public kin. Reporters Achiar M Suara Merdeka Permana art tour accompanying notes scribbled in a series starting today.

SINCE off sunset, the signs of the crowd began to look at the Plain Majlis Bandaraya Melaka Historical (MBMB) in the area of deceptive Ayer, Melaka, Malaysia. This page is roomy, with ponds and fountains on either side of aesthetic that, decorated with a large crowd.

Two hours, at around 20:00 when Melaka, where it will be staged a number of dance and other arts of the Malays tribe. One of them, dance-art warak typical ngendok Semarang-carried by Udinus. Udinus presence in Malaysia was the realization Revitalization Grant Program for Higher Education Art Nonseni from the Directorate General of Higher Education (Directorate General of Higher Education) Ministry of National Education.

The performance that night, Saturday (5 / 12), is part of the treat to the participants of the Convention on the World X Melayu Dunia Islam (DMDI) 2009, which hosted Melaka. The Convention was attended by representatives of the countries of Islamic Malays in various parts of the world, ranging from Malaysia, Indonesia, Thailand, to South Africa.

As welcome the visitors, at the entrance of Fikri Budiman et D3 Multimedia Faculty of Computer Science (FIK) Udinus held a photo exhibition about warak ngendok.

Most of the photos illustrate dugder frenzy celebration, which was held in Semarang each before Ramadan. Although not too representative for the exhibition, the option to hold the photos warak ngendok in place was not too wrong. Because, other than citizens of Malacca, the stage was watched by participants DMDI Convention and the International Conference on Soft Computing and Pattern Recognition (Socpar) 2009, which was held Universiti Teknikal Malaysia (Utem) Melaka.
Dance Rampak Finally, the time waiting for arrived. The first dish is displayed by the host, in the form of a dance that Rampak, followed by sang songs from local artists. Udinus arts grants team get the fourth turn.
Before entering into the dance, Hery Pamungkas from TVKU give the presentation about the art that will be presented. After that, Come dance deblong svelte as the opening presentation of Semarang.

The dance depicts the beauty of the girl Semarang, a lively play with two fans in hand. After the appearance of four dancers were beautiful, ditayangkanlah animated film The History of warak Ngendhog. The film was worked on by the animation team of Visual Communication Design (DKV) FIK Udinus.

Last dish, and top team performance art Udinus goodwill, of course warak Ngendok Dance. The dance is described dugder celebration frenzy, as a form of greeting residents of Semarang on the holy month of Ramadan.

Dance presented by Rampak. Motion of the dancers combined correctly performed to the accompaniment of live shows, with songs rinirusli xylophone.
The presence of the replica warak ngendok carried the dancers onto the stage, giving more value because the audience can get a picture of the mythological beast.

As a result, after the gig keplok spectators were present prolonged. The dance was''very seronok again ...,'' comment mengkhusyukkan Prof. Dr. H. syahrin Sahib, dean Fakulti Notice and Communication Technology (FTMK) Utem, who watched the show until the appearance Udinus ngendok warak team over. (87)

Read More,...